IA menyukai lagu itu, yang sering ia dengar dari radio semasa kecil dan ia nyanyikan di dahan pohon mangga depan rumah, dan ia tetap menyu...

Dijual: Rumah Dua Lantai Beserta Seluruh Kenangan di Dalamnya

 


IA menyukai lagu itu, yang sering ia dengar dari radio semasa kecil dan ia nyanyikan di dahan pohon mangga depan rumah, dan ia tetap menyukainya hingga bertahun-tahun kemudian. Di telinganya, penyanyi di radio itu seperti berteriak apuseeee... dan ia menyanyikannya begitu. Ia pikir ada juga lagu Barat yang berjudul Apuse, sama dengan judul sebuah lagu daerah. Baru nanti, setelah semuanya terjadi, ia tahu judul lagu itu House for Sale.

Itu lagu yang abadi di dalam benaknya. Kapan pun ia menyanyikannya sekarang, ingatannya akan selalu surut ke suatu sore di masa lalu saat ia duduk di balkon depan kamarnya memandangi gumpal-gumpal awan. Semuanya jernih seperti belum lama terjadi. Ia menikmati rokoknya di balkon itu, satu kakinya dinaikkan ke kursi. Istrinya, dengan gerak kalem dan paras sedih, datang mendekat dan duduk di kursi sampingnya. Ia menoleh ke arah perempuan itu, memandangi beberapa saat paras sedihnya. Istrinya tampak lebih cantik ketika sedih.

Pada pagi harinya, saat ia baru membuka mata dan dunia masih samar-samar, ia dengar sayup-sayup suara istrinya: “Kepala saya sakit sekali, Pak. Mohon izin tidak masuk hari ini. Surat-surat yang harus Bapak tanda tangani ada di lemari berkas, saya taruh di tumpukan paling atas. Ya, ada tiga. Kunci lemari ada di laci paling atas meja saya.”

Korden jendela kamar sudah tampak terang ketika ia tersadar sepenuhnya. Istrinya sudah selesai bicara dan kembali menarik selimut dan tidur lagi meringkuk dengan punggung menghadap ke arahnya. Perempuan itu jarang sekali tidur telentang dan hari itu seharian dia meringkuk saja di ranjang dan hanya dua kali keluar kamar, ialah pada siang hari ketika meminta pengasuh bayi membelikan obat sakit kepala dan pada sore hari ketika mandi.

Ia melihat istrinya menuruni tangga ke lantai satu dan masuk ke kamar mandi. Saat itu ia baru keluar dari ruang kerjanya, meninggalkan komputer yang tetap menyala, dan berjalan menuju balkon. Perempuan itu menyusulnya duduk di balkon setelah selesai mandi.

“Bisa bicara sebentar, Mas?” tanya perempuan itu.

“Silakan,” sahutnya.

“Sudah beberapa waktu aku memikirkan ini. Aku tahu cepat atau lambat aku pasti menyampaikannya kepadamu.”

“Sampaikanlah. Aku suamimu. Kalau kau ada masalah, aku orang pertama yang mendengarkanmu.”

“Mestinya begitu....”

“Maksudmu?”

“Ya, mestinya begitu. Hanya selama ini aku sering merasa sia-sia menyampaikan apa pun kepadamu. Rasanya....”

“Kupikir kita akan menikmati sore hari dengan percakapan yang menyenangkan. Rupanya kau berniat menghakimiku?”

“Tidak, tidak. Tapi tak apa jika kau merasa begitu. Setidaknya sekarang kautahu seperti apa rasanya.”

“Itu yang ingin kausampaikan?”

“Bukan. Itu yang selama ini kurasakan, Mas. Setiap kali aku mencoba berbagi masalah denganmu, aku merasa kau selalu menyudutkanku--atau menghakimi menurut istilahmu. Rasa-rasanya tak pernah satu kali pun kau mau merasakan apa yang kurasakan, tak pernah satu kali pun kau berpihak kepadaku jika sesekali aku punya masalah dengan orang lain.”

“Aku tak ingin kau punya masalah dengan orang lain.”

“Aku juga tak ingin. Tapi setiap orang hidup pasti punya masalah dan aku tidak mau menjadi orang yang lari dari masalah. Sudah kuceritakan banyak hal kepadamu sebelum kita menikah tentang bagaimana masalah demi masalah datang kepadaku dan bagaimana aku sendirian menghadapi semuanya. Kemudian kita menikah dan aku tetap merasa sendirian menghadapi masalah-masalahku.”

Ia menyimak semua kalimat istrinya, tetapi sulit menduga ke mana arah pembicaraan. Di bawah mereka ada tiga anak kecil dan seorang perempuan yang menyuapi bayinya dan penjual balon gas yang sedang melayani pembeli kanak-kanaknya. Ia ingat pernah membeli tujuh balon gas lima tahun lalu, pada hari-hari bulan madu pernikahan mereka, tiga berwarna merah empat berwarna kuning. “Tuhan menyukai hitungan ganjil,” katanya. Lalu ia menulis doa yang sama di tujuh lembar kertas—Tuhan, lancarkanlah rezeki kami dan jagalah keutuhan rumah tangga kami—dan masing-masing kertas ia ikatkan dengan benang pada balon-balon tersebut.  

Pada malam hari, ia dan istrinya melepaskan balon-balon itu ke langit dan Tuhan, pengabul doa-doa yang diucapkan maupun kecemasan yang disembunyikan, menyambut baik ketujuh balon mereka. Pada tahun kedua pernikahan, istrinya melahirkan dan, pada tahun ketiga, mereka sanggup membeli rumah kecil dua lantai yang sekarang mereka tempati. Lantai bawah ia biarkan lapang saja untuk ruang tamu dan dapur dan kamar mandi. Semua kamar tidur ada di lantai atas: satu kamar ia gunakan sebagai ruang kerja, satu kamar untuk anak mereka dan pengasuhnya, dan satu lagi yang paling besar adalah kamar tidur untuk ia dan istrinya. Di balkon depan kamar itulah mereka duduk bersebelahan, dua hari sebelum ia memasang tanda rumah dijual.

“Sasi tidur?” tanyanya.

“Jalan-jalan,” kata istrinya. “Kuminta Ririn membawanya keluar jalan-jalan.”

“Ia pengasuh yang baik. Sasi beruntung mendapatkan pengasuh yang baik.”

“Sekarang ia mulai pacaran dan pacarnya hampir tiap hari datang kemari.”

“Kau ke kantor tiap hari....”

“Mbak tukang cuci yang memberitahuku.”

“Sebetulnya wajar saja. Ia sudah cukup umur untuk punya pacar.”

“Aku tidak mau anakku ditelantarkan. Pengasuh yang mulai pacaran biasanya menjadi teledor.”

Kalimat kedua itu dalil. Sejak pernikahan, istrinya kerap mengeluarkan dalil. Ia hanya mengangkat bahu dan menunjukkan isyarat tangan yang bisa saja diartikan “sesukamulah” atau “entahlah” atau terserah istrinya mau menafsirkan apa. Lalu ia susuli isyarat itu dengan kalimat:

“Ia sudah mengasuh Sasi sejak bayi dan pekerjaannya bagus. Jika kau memberhentikannya, pengasuh baru belum tentu sebaik anak itu.”

“Belum tentu lebih buruk juga. Mungkin lebih baik.”

“Jadi, sebenarnya apa yang hendak kausampaikan?”

  

Perempuan itu mengambil rokok yang terselip di jari-jari suaminya dan menyelipkan ke bibirnya sendiri dan mengisapnya kuat-kuat. Suaminya melolos lagi sebatang rokok dan menyalakannya. Kini mereka masing-masing memegang sebatang rokok. Perempuan itu baru bicara lagi setelah isapan keempat.

“Kurasa lebih baik kita berpisah saja, Mas” katanya. Matanya menatap lantai ketika ia bicara.

“Seringan itu kau menyampaikannya?” kata suaminya.

Sungguh, lelaki itu tak pernah bisa memahami perasaannya. Sama sekali tidak ringan baginya untuk mengucapkan hal itu. Ia sudah menyiapkan diri cukup lama dan berusaha sangat keras untuk tetap tenang saat menyampaikannya.  Selama berbulan-bulan sebelum akhirnya ia bisa bicara, sesungguhnya sudah berkali-kali ia menetapkan hati untuk menyampaikannya, namun berkali-kali pula ia mengurungkan kembali niatnya. Sepertinya tak pernah ada waktu yang tepat untuk sebuah kalimat yang singkat saja: kita bubar.

“Aku tak bisa mencintaimu lagi,” katanya.

“Lalu?” tanya suaminya.

“Kupikir lebih baik kita bercerai.”

“Kau membuatku sedih.”

“Mestinya kau merasa senang.”

“Oya? Kau mengatakan lebih baik kita bercerai dan menurutmu seharusnya aku merasa senang. Apa maksudmu?”

“Entahlah. Kupikir begitu.”

“Kau selalu berpikir begitu....”

“Hubungan kita semakin menyedihkan, Mas. Mari kita mengakui itu. Kalau boleh jujur, aku tak pernah merasa bahagia selama ini.”

“Oh, aku tahu itu tanpa kaubilang. Kulihat kau memang langsung sengsara sejak hari pertama kita menikah. Jadi, tidak satu kali pun kau pernah bahagia?”

Ia menggeleng pelan.

“Ya, ya, aku bisa paham,” kata suaminya. “Kau menginginkan perceraian, maka yang kaulihat dalam hubungan kita hanya kegelapan. Aku yakin kau lupa betapa bahagianya dirimu saat memberitahuku bahwa kau hamil. ‘Mas, aku hamil, Mas! Aku akan menjadi ibu untuk anak yang lahir dari rahimku sendiri!’ Atau itu tidak termasuk kebahagiaan menurutmu?”

“Ya, Mas, aku sangat bahagia bisa hamil, bahagia sekali. Tapi aku tidak yakin kau juga bahagia. Kau tidak ingin punya anak dari aku. Kautahu, aku sedih sekali malam itu ketika kaubilang, ‘Nanti kita mengadopsi anak saja.’ Sejak itu aku bertekad untuk hamil, tak peduli kau menghendaki anak dariku atau tidak.”

“Ya, Tuhan. Alangkah ajaibnya. Kau istriku dan kita tidur di ranjang yang sama tiap malam dan aku tak pernah menyadari kau menyimpan pikiran sejahat itu tentangku. Tapi itu salahku. Aku hanya mampu mengingat hal yang mungkin tak penting sama sekali bagimu, yaitu saat kau menangis dan menciumku dan bertanya malam itu: ‘Jadi kau tidak kecewa kalau aku tak bisa punya anak, Mas?’

“Lalu aku menggeleng dan berkata secara jujur kepadamu, ‘Kita pasti punya anak jika kita sudah siap menjadi orang tua. Ia bisa lahir dari rahimmu, bisa juga anak orang lain yang kita rawat sepenuh hati sebagai anak kita sendiri. Dan memang ia anak kita, yang berbeda hanya cara ia hadir dalam kehidupan kita. Selanjutnya sama saja.’

“’Terima kasih, Mas,’ katamu. ‘Aku takut sekali kalau nantinya aku tidak bisa punya anak, aku takut itu mengecewakanmu. Sungguh kau tidak akan kecewa? Kau akan tetap mencintai aku?’

“‘Tetap mencintaimu,’ kataku.

“Lalu kau mendesakku agar mengucapkannya sekali lagi. ‘Aku ingin mendengarnya sekali lagi,’ katamu. Dan dan aku mengucapkannya lagi, ’Tetap mencintaimu.’

“’Selamanya?’

“’Selamanya.’

“Kupikir kau bahagia malam itu. Rupanya aku keliru.”

 

Tidak ada yang keliru malam itu; ia memang bahagia. Gerimis turun agak lebat dan ia turun tiba-tiba pada sore hari musim kemarau dan matahari masih memancar terang saat gerimis turun tiba-tiba. Mereka menepi bersama beberapa pejalan kaki yang lain di sebuah halte depan toko barang-barang kerajinan. Suaminya menggandengnya masuk ke toko itu dan mereka melihat-lihat apa saja yang dijual di sana dan ia berpindah ke toko sebelah yang menjual perlengkapan bayi saat lelaki itu berdiri lama di depan segerombol kucing kayu. “Yang hijau itu bagus, Mas,” katanya. “Eh, aku ke sebelah dulu, ya. Fatima melahirkan bulan lalu dan aku belum sempat menengoknya.”

“Nanti kususul,” kata suaminya.

Di dalam taksi yang membawa mereka pulang, ia duduk merapat di pintu, seperti ingin melipat diri sekecil mungkin. Pakaian bayi yang baru ia beli, yang akan ia bawa nanti saat menjenguk Fatima, ada di pangkuan. Suaminya menanyakan apakah ia sakit. Ia bilang tidak apa-apa, hanya sedikit pening karena tertimpa gerimis, tapi itu tak akan lama. “Kalau hujannya lebat sekalian malah tidak apa-apa,” katanya.

Dua jam kemudian, saat mereka sampai di rumah setelah perjalanan yang merambat, ia barulah menyampaikan rasa takutnya soal kemungkinan tidak punya anak. Jawaban suaminya malam itu membuatnya lega dan ia mencium lelaki itu dengan pipi yang basah oleh rasa bahagia.

Itu percakapan yang tak pernah ia lupakan. Itu percakapan yang memberinya perasaan tenteram. Namun itu bukan satu-satunya percakapan. Ada banyak percakapan lain di antara mereka yang diam-diam menyusupkan ke dalam pikirannya perasaan cemas yang tak terhapuskan.

“Aku harus kontrol ke dokter malam ini, Mas. Sudah janjian nanti pukul delapan. Kau bisa menjemputku di kantor?”

“Aduh, aku telanjur ada janji dengan orang.” 

“Ya, sudah. Kau janjian di mana?”

“Kuningan.”

"Pulangnya larut?”

“Aku usahakan tidak terlalu larut.”

“Nanti pulang lewat Buncit, kan? Ada toko asinan di kanan jalan.... Halo..., halo...! Pulangnya....”

Percakapan terputus. Ia menelepon lagi, gagal, menelepon lagi, gagal, menelepon lagi, gagal. Mereka baru terhubung lagi saat ia hampir habis kesabaran.

“Selalu begini kalau telepon denganmu. Sudah kubilang, kau harus ganti pesawat.”

“Sinyalnya buruk di sini.”

“Kurasa teleponmu yang sudah butut.”

“Eh, sampai di mana tadi?"

“Kalau nanti lewat Buncit, tolong belikan asinan. Ada toko asinan di kanan jalan setelah Mampang, dekat lampu merah. Setahuku ia buka sampai pukul sebelas. Tapi kalau sudah tutup, belikan martabak saja.”

“Manis atau telor?”

“Telor.”

“Baiklah.”

“Oya, kalau aku sudah tidur waktu kau pulang, bangunkan saja,”

Janin di dalam perutnya memasuki usia empat bulan saat itu. Suaminya pulang tanpa asinan dan lupa membeli martabak dan lelaki itu entah pulang pukul berapa. Mereka ribut kecil pada pagi hari sebelum ia berangkat ke kantor.

Sejumlah percakapan yang nyaris sama akan terulang lagi di saat-saat berikutnya. Ia merasa suaminya selalu begitu. Ia merasa, pada akhirnya, bahwa suaminya mungkin tidak menghendaki punya anak dari dirinya. Itu sebabnya lelaki itu dengan enteng menanggapi ketakutannya kalau-kalau ia tidak bisa punya anak.

 

Ia menarik dan menghembuskan napasnya panjang sekali. Matanya memandang sesuatu di kejauhan. Di langit ada segumpal awan besar yang membentuk mulut raksasa menganga. Di sampingnya, istrinya tampak sangat tenang, seperti sudah benar-benar yakin dengan keputusannya. Perempuan itu menikmati isapan terakhir rokoknya dan kemudian mematikan baranya di asbak.

“Aku capek, Mas. Kita terlalu sering ribut,” kata perempuan itu.

“Bukan aku yang menginginkannya,“ katanya.

“Jadi selalu aku yang memulainya?”

“Aku tak mengatakan seperti itu. Aku sedih kita sering ribut. Kadang itu membuatku sangat putus asa. Kadang terpikir olehku untuk melompat dari jendela kamar dan mati seketika. Mungkin lebih baik bagimu jika aku tak ada.”

“Sama, Mas. Aku juga sering berpikir seperti itu.”

Mereka lima tahun menikah. Istrinya semakin fasih mengembalikan apa pun yang ia sampaikan dan ia pikir setiap percakapan di antara mereka tak pernah menghasilkan jalan keluar.

“Apa yang kaubicarakan dengan Tante Sita minggu lalu?” ia membelokkan pembicaraan.

“Aku tak mengerti maksudmu,” kata istrinya.

“Kau melakukan konsultasi hukum?”

“Aku tidak bertemu dengannya.”

“Kemarin ada teman meneleponku. Ia bilang, ‘Aku bertemu istrimu di rumah Om Bram minggu lalu. Ia bicara dengan Tante Sita dan kelihatannya mereka membicarakan urusan yang sangat serius.’”

“Hanya ngobrol-ngobrol biasa.”

“Oke, jadi kau ke rumahnya.”

“Aku memerlukan teman bicara.”

“Aku tak bisa menjadi teman bicaramu?”

“Apakah kau bisa?”

“Jika kau menganggapku ada.”

“Aku merasa sebaliknya, Mas, aku yang tak pernah ada bagimu. Kau hanya peduli pada teman-temanmu dan pada urusanmu sendiri dan pada apa saja yang tidak ada hubungannya denganku. Semula kupikir kau benar-benar mencintaiku....”

“Sampai sekarang aku mencintaimu.”

“Terima kasih. Dan maafkan aku tak bisa lagi mencintaimu. Karena itu kusampaikan apa yang terbaik bagi kita.”

“Hanya bagimu. Aku akan kehilangan dua orang yang kucintai, kau dan Sasi, dan kau hanya kehilangan satu orang yang kau tidak bisa lagi mencintainya.”

 

Si suami mengatakan malam itu, sebelum mengakhiri percakapan, bahwa rumah yang mereka tempati sebaiknya dijual saja sebab semuanya sudah berakhir. “Sekalian dengan perabot-perabotnya,” kata lelaki itu. “Kalau bisa, sekalian dengan seluruh kenangan di dalamnya. Kau tidak membutuhkannya lagi, aku juga tidak membutuhkannya.” Dan lelaki itu segera menjalankan apa yang dikatakannya. Dua hari setelah percakapan, pada pagi yang basah oleh hujan saat si istri keluar rumah hendak ke kantor, ia membaca tanda pada pagar: Rumah Dijual. Ia tidak tahu kapan suaminya memasang plakat itu.

Perempuan itu berdiri mematung di depan pagar, memandangi plakat, dan di dalam benaknya muncul sebuah percakapan yang berlangsung saat usia perkawinan mereka masih muda. Pada malam yang bahagia, ia dan suaminya pernah saling mencocokkan kesukaan masing-masing di masa kecil. Ia menyukai lagu House for sale, yang sering ia nyanyikan di kamar mandi semasa kecil, dan sebenarnya ia suka menyanyikan apa saja di kamar mandi. Ia merasa suaranya terdengar lebih merdu di kamar mandi.

“Tuhan memberi kita pasangan yang memiliki kesukaan yang sama,” kata suaminya.

"Lebay," katanya.

Butir-butir air sisa hujan membasahi rambut dan wajahnya. Perempuan itu masuk lagi ke dalam rumah, naik ke kamar, menjumpai suaminya masih lelap di ranjang. Diambilnya telepon genggam dari dalam tasnya: “Sakit kepala saya kambuh lagi, Pak. Mohon izin tidak masuk hari ini.” [*]

 

1 comment:

  1. Saya suka sekali cerpen ini. Terima kasih, Pak Sulak.

    ReplyDelete